Monday, March 9, 2009

TIADA IBADAH KHUSUS YASSIN MALAM JUMAAT

MUQADDIMAH

“Katakanlah: “Mahukah Kami khabarkan kepada kamu akan mereka yang paling rugi amalannya? (Iaitu) mereka yang telah sia-sia kerja buatnya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka (dengan akal sendiri) bahawa mereka melakukan amalan yang baik”. (Surah al-KahfI: 103-104).

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul, maka mereka menjawab: Cukuplah kami meniru apa yang kami jumpai pada nenek-nenek moyang kami; apakah (mereka tetap akan mengikutinya) sekalipun nenek-nenek moyangnya itu tidak berpengetahuan sedikitpun dan tidak terpimpin?" (al-Maidah : 103-104)

PENERANGAN

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum'at (hari Jum'at menjelang khatib naik mimbar, tambahan-peny), ketika mengawali atau menutup majlis ta'lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting.

Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur'an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur'an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur'an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur'an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur'an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum'at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.

Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur'an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah. Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA'IF DAN MAUDHU'

Adapun hadits-hadits yang semuanya dha'if (lemah) dan atau maudhu' (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

1."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya". (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).

Keterangan : Hadits ini Palsu.

Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944).

2."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya".

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu'jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma'in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

3."Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid".

Keterangan : Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa'id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

"Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya".

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja'. Atha' bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.(Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

"Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu (Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

"Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu. (Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

"Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".

Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha'if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. (Periksa : Mizanul I'tidal IV:173).

"Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283).

"Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".

Keterangan : Hadits ini Lemah. Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

"Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza') melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya".

Keterangan : Hadits ini Palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa'i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu 'Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91).

Penjelasan

Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha'if, hal. 113-115).

KHATIMAH

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur'an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala.

Wallahu A'lam.

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA LAIN PART 1

Soal bukan muslim mengakui Allah tidak dibantah oleh Islam, bahkan kita disuruh bersyukur kerana pengakuan itu. Cuma yang dibantah ialah kesyirikan mereka. Umpamanya, jika kita mendengar bukan muslim menyebut “Allah yang menurunkan hujan, atau menumbuhkan tumbuhan”, maka kita tentu gembira kerana dia mengakui kebesaran Allah.

Firman Allah: (maksudnya) “Dan Demi sesungguhnya! jika engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah!”. (jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan? Dan (Dia lah Tuhan Yang mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman!” (Surah al-Zukhruf ayat 87-88).

Firman Allah dalam ayat yang lain: (maksudnya) “Dan sesungguhnya jika engkau (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: “siapakah yang menurunkan hujan dari langit, lalu dia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya?” sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Ucapkanlah (Wahai Muhammad): “Alhamdulillah” (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian), bahkan kebanyakan mereka tidak menggunakan akal (untuk memahami tauhid) (Surah al-Ankabut ayat 63).


Al-Imam Muslim dalam sahihnya meriwayatkan hadis mengenai perjanjian Hudaibiah antara Nabi s.a.w dengan Quraish Mekah, seperti berikut:

“Sesungguhnya Quraish membuat perjanjian damai dengan Nabi s.a.w. Antara wakil Quraish ialah Suhail bin ‘Amr. Sabda Nabi s.a.w : barangkali aku boleh tulis Bismillahirrahmanirrahim. Kata Suhail: Adapun Bismillah (dengan nama Allah), maka kami tidak tahu apa itu Bismillahirrahmanirrahim. Maka tulislah apa yang kami tahu iaitu BismikalLahumma (dengan namaMu Ya Allah!)”. Dalam riwayat al-Bukhari, Nabi s.a.w menerima bantahan tersebut. Ternyata mereka menggunakan nama Allah.

LARANGAN MENGINTIP MENCARI KESALAHAN ORANG

Ketahuilah sesungguhnya tiada manusia yang maksum dimuka bumi ini kecuali nabi termasuk kita dan sesungguhnya perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain lebih-lebih lagi dengan mengintip adalah dilarang dalam islam, tidak seperti yang diamalkan majoriti sekarang.

Al-Imam al-Ghazali (meninggal 505H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din. telah menyebut mengenai rukun-rukun pelaksanaan Hisbah. Hisbah bermaksud pelaksanaan al-Amr bi al-Ma‘ruf (menyuruh kepada kebaikan) apabila jelas ia ditinggalkan, dan al-Nahy ‘An al-Munkar (pencegahan kemungkaran) apabila jelas ia dilakukan. Rukun ketiga yang disebut oleh al-Imam al-Ghazali ialah:
“Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah tanpa perlu melakukan intipan. Sesiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita mengintipnya. Allah Ta‘ala telah melarang hal ini. Kisah ‘Umar dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf mengenai perkara ini sangat masyhur. Kami telah menyebutnya dalam kitab Adab al-Suhbah (Adab-Adab Persahabatan). Begitu juga apa yang diriwayatkan bahawa ‘Umar r.a. telah memanjat rumah seorang lelaki dan mendapatinya dalam keadaan yang tidak wajar. Lelaki tersebut telah membantah ‘Umar dan berkata: “Jika aku menderhakai Allah pada satu perkara, sesungguhnya engkau telah menderhakai-Nya pada tiga perkara. ‘Umar bertanya: “Apa dia?”. Dia berkata: Allah Taala telah berfirman (maksudnya: Jangan kamu mengintip mencari kesalahan orang lain). Sesungguhnya engkau telah melakukannya. Allah berfirman: (Maksudnya: Masukilah rumah melalui pintu-pintunya). Sesungguhnya engkau telah memanjat dari bumbung. Allah berfirman: (maksudnya: janganlah kamu masuk ke dalam manamana rumah yang bukan rumah kamu, sehingga kamu lebih dahulu meminta izin serta memberi salam kepada penduduknya). Sesungguhnya engkau tidak memberi salam. Maka ‘Umar pun meninggalkannya…Maka ketahuilah bahawa sesiapa yang mengunci pintu rumahnya dan bersembunyi di sebalik dindingnya, maka tidak harus seseorang memasuki tanpa izin daripadanya hanya kerana ingin mengetahui perbuatan maksiat. Kecuali jika ia nyata sehingga diketahui oleh sesiapa yang berada di luar rumah tersebut..” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 3/28, Beirut: Dar al-Khair 1990).

Al-Qaradawi telah menyebut perkara yang hampir sama. Beliau dalam bukunya Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam telah menyatakan:

“Kemungkaran itu mesti nyata dan dilihat. Adapun jika pelakunya melakukannya secara sembunyian dari pandangan manusia dan menutup pintu rumahnya, maka tidak seorang pun boleh mengintip atau merakamnya secara diam-diam dengan menggunakan alat elektronik atau kamera video atau menyerbu rumahnya untuk memastikan kemungkarannya. Inilah yang ditunjukkan pada lafaz hadis “barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya….” Dikaitkan kewajipan mengubah itu dengan melihat atau menyaksikan kemungkaran. Tidak dikaitkan dengan mendengar tentang kemungkaran dari orang lain. Ini kerana Islam tidak menjatuhkan hukuman kepada orang yang mengerjakan kemungkaran secara bersembunyi dan tidak menampakkannya. Diserahkan hanya kepada Allah untuk menghisabnya pada hari kiamat. Hisab ini bukan menjadi wewenang seseorang di dunia. Sehinggalah dia melakukannya secara terang-terangan dan menyingkap keaibannya. Bahkan hukuman Ilahi itu lebih ringan bagi orang menutupi kemungkarannya dengan menggunakan tabir Allah dan tidak menampakkan kederhakaannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih: (bermaksud):“Setiap umatku diberikan keampunan kecuali orang-orang yang menampakkan (dosanya)” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Justeru, tiada seorang pun mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman terhadap kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan secara sembunyi. Terutamanya maksiat hati seperti riyak, kemunafikan, kesombongan, dengki, kikir dan lain-lainnya. Sekalipun agama menganggapnya sebagai dosa besar, namun tidak dibantah-selagi tidak zahir dalam bentuk amalan. Sebabnya ialah kita diperintahkan untuk menghakimi manusia apa yang kita nampak. Adapun hal-hal yang tersembunyi kita serahkan kepada Allah”. Lalu al-Qaradawi menyebut kisah Saidina ‘Umar tadi. (Al-Qaradawi, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, m.s. 124, Kaherah: Dar al-Syuruq).

Dalam tafsir Fi Zilal al-Quran, ketika menafsirkan firman Allah (maksudnya)
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip mencari-cari kesalahan orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat antara satu sama lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah penerima taubat, lagi Maha mengasihani”Al-Hujurat ayat 12, Sayyid Qutb menyebut: “Namun perkara ini kesannya lebih jauh dari itu. Ia adalah prinsip Islam yang utama dalam sistem kemasyarakatannya, juga dalam urusan perundangan dan pelaksanaannya. Sesungguhnya bagi manusia itu kebebasan, kehormatan, kemuliaan yang tidak boleh dicerobohi dalam apa bentuk sekalipun. Tidak boleh disentuh dalam apa keadaan sekalipun. Dalam masyarakat Islami yang tinggi dan mulia, manusia hidup dalam keadaan aman pada diri mereka, aman pada rumah mereka, aman pada rahsia mereka dan aman pada keaiban mereka. Tiada sebarang justifikasi – atas apa alasan sekali pun – untuk mencerobohi kehormatan diri, rumah, rahsia dan keaiban. Sekalipun atas pendekatan mencari jenayah atau memastikannya, tetap tidak diterima dalam Islam pendekatan mengintip orang ramai. Hukum manusia berasaskan apa yang zahir. Tiada hak sesiapa untuk mencari-cari rahsia orang lain. Seseorang tidak akan diambil tindakan melainkan atas kesalahan dan jenayah yang nyata dari mereka….demikianlah nas ini (larangan tajassus) menempatkan dirinya dalam sistem pelaksanaan dalam masyarakat Islami. Ia bukan sekadar mendidik jiwa dan membersihkan hati, bahkan ia telah menjadi dinding yang memagari kehormatan, hak dan kebebasan manusia. Tidak boleh disentuh dari dekat atau jauh, atau atas sebarang pendekatan atau nama”. (Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Quran, 6/3346, Kaherah: Dar al- Syuruq).


Dalam hadis Muslim, seorang lelaki datang kepada Nabi saw dan berkata:
“Wahai Rasulullah, aku mengubati seorang wanita di hujung bandar. Aku telah melakukan kepadanya (seks), cuma aku tidak menyetubuhinya. Inilah aku, maka hukumlah aku apa yang engkau mahu.”
Lalu ‘Umar (Ibn Khattab) berkata kepadanya:
Allah telah tutupi keaibanmu jika engkau menutupi dirimu”.
Nabi saw tidak berkata apa-apa. Lalu lelaki itu bangun dan pergi. Nabi saw menyuruh seorang lelaki memanggilnya dan membaca kepadanya firman Allah (maksudnya)
“Dan dirikanlah sembahyang pada dua bahagian siang (pagi dan petang), dan pada waktu-waktu yang berhampiran dengannya dari malam. Sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan kejahatan. Perintah-perintah Allah yang demikian adalah menjadi peringatan bagi orang-orang yang mahu beringat” (Surah Hud ayat 114).
Maka ada seorang bertanya:
“Wahai Nabi Allah, ini khas untuknya sahajakah?
Jawab Nabi saw:
“Bahkan untuk manusia keseluruhannya”.

Dalam satu riwayat daripada Zaid bin Wahb, katanya:

Dibawa seorang lelaki kepada ‘Abd Allah bin Mas‘ud, lalu diberitahu kepadanya: Lelaki ini menitis arak dari janggutnya. Kata ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Kita dilarang untuk mengintip, namun apabila jelas kepada kita maka kita bertindak”. (Riwayat Abu Daud. Sanadnya sahih).

ISLAM SANGAT MUDAH

Firman Allah: (maksudnya) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. (Surah al-Baqarah: 185)

Firman Allah: (maksudnya) Allah (sentiasa) hendak meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu dijadikan berkeadaan lemah. (Surah al-Nisa:ayat 28

Firman Allah: (maksudnya) Tidakkah kamu memperhatikan bahawa Allah telah memudahkan untuk kegunaan kamu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan telah melimpahkan kepada kamu nikmat-nimatNya yang zahir dan yang batin? (Surah Luqman: ayat 20). Juga firmanNya: (maksudnya) Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi”. (Surah al-Baqarah: ayat 29).

Sabda Nabi s.a.w.: “Apa yang Allah halalkan dalam kitabNya maka halal. Apa yang Allah haramkan, maka haram. Apa yang Dia diamkan maka itu dimaafkan. Terimalah kemaafanNya. Kerana sesungguhnya Allah tidak pernah lupa sesuatu pun”. Lalu baginda membaca firman Allah (maksudnya): “Maka tidaklah tuhanmu itu lupa” (hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Darqutni, dinilai sahih oleh al-Albani).

Juga firmanNya: (maksudnya) Dan Dia memudahkan untuk (kegunaan) kamu, segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, (sebagai rahmat pemberian) daripadanya; Sesungguhnya semuanya itu mengandungi tanda-tanda (yang membuktikan kemurahan dan kekuasaanNya) bagi kaum yang berfikir. (Surah al-Jathiah: ayat 13)